Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 November 2009

Identifikasi Gaya Belajar anak dengan kesulitan belajar

Identifikasi Gaya Belajar anak
Written by aabb
Wednesday, 09 September 2009

Identifikasi gaya belajar anak

Oleh : Ike R Sugianto, Psi



Sebagai orangtua atau guru sering kita frustrasi dalam mengajar anak. Tanpa disadari hal itu sebenarnya karena gaya belajar anak berbeda dengan gaya belajar orangtua atau gaya belajar guru. Sebagai orangtua / guru sering kita memaksakan gaya belajar kita pada anak, hal ini pasti akan menimbulkan konflik dan suasana belajar menjadi tidak menyenangkan



Dengan mengenali gaya belajar anak maka :

1. Menciptakan cara belajar yang menyenangkan bagi anak.

2. Mengurangi konflik yang timbul sebagai akibat dari belajar.

3. Menimbulkan motivasi belajar.

Manusia menerima informasi dari dunia luar melalui panca-indera : penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan pengecapan. Semua informasi ini diterima oleh otak kita, diolah dan disimpan, dan bila kita memerlukan maka dapat direcall kembali.

Secara umum kita mengenal 3 jenis gaya belajar ( Fleming Model ) :

· Tipe Visual

· Tipe Auditory

· Tipe Taktil-Kinestetik



TIPE VISUAL .

· Belajar melalui melihat

· Berpikir dalam bantuk gambar

· Memandang sikap tubuh & ekspresi wajah

· Senang duduk di depanCara belajar Visual :

· Catatan & hands-out

· Buku berilustrasi

· Baca sendiri

· Gunakan warna untuk pointers

· Gambar, table, peta, grafik dll.

· Belajar di tempat yang sepi

· Menghafal dengan asosiasi gambar

· Multi media

· Ide gambar & diagram



TIPE AUDITORY .

· Belajar melalui mendengar

· Memahami arti pembicaraan dengan mendengarkan nada bicara & nuansa pembicaraan lainnya.

· Senang berbicara panjang lebar.

Cara Belajar Auditory :

· Utamakan mendengar penjelasan guru

· Merekam lebih efektif

· Partisipasi dalam diskusi, berpidato & presentasi

· Membaca dengan bersuara , merangkai materi dengan musik

· Menghafal dengan mnemonics contoh: BaRang BayPass

· menghafal dengan bersuara, seperti tanya jawab atau berderita

· menulis dengan bersuara atau mendiktekan

TIPE TAKTIL-KINESTETIK .

· belajar melalui bergerak, praktek & menyentuh

· ikut praktek langsung & aktif mengeksplorasi lingkungan

· sulit untuk duduk diam

· perhatian mudah teralihkan

Cara belajar Taktil-kinestetik :

· sesi singkat dengan break

· aktivitas fisik selama menghafal atau belajar

· posisi berdiri, permen karet

· global ke detil

· baca dengan jari

· praktikum, bermain peran

· berbicara lambat, anggota tubuh bergerak

· ekstrakurikuler = aktivitas fisik
Last Updated ( Wednesday, 09 September 2009 )

sumber http://www.kesulitanbelajar.org

Jumat, 30 Oktober 2009

Identifikasi Anak Dengan Disleksia

Identifikasi Anak
Dengan Disleksia

Written by aabb
Tuesday, 21 April 2009

Identifikasi Anak
Dengan Disleksia
Oleh : Dra. Lucia RM Royanto,
MSi, MSpEd

Disleksia

Disleksia adalah kesulitan belajar spesifik berkaitan dengan penguasaan keterampilan dasar yaitu membaca, mengeja & menulis.

Disleksia dapat dijelaskan pada tingkat neurologis, kognitif & behavioral. Anak dengan disleksia memiliki ciri

· pemrosesan informasi yang tidak efisien,
· kesulitan dalam working memory,
· menyebutkan sesuatu secara cepat & otomisasi keterampilan dasar.
· Seringkali diikuti dengan kesulitan mengurutkan, organisasi & motorik (dalam Reid, 2003).

Di Amerika Serikat, 10% -15%anak sekolah mengalami kesulitan dalam membaca
(Harris & Sipay, 1990). Kesulitan ini merupakan penyebab kegagalan yang terbesar di
sekolah, karena anak dengan kesulitan membaca akan memiliki pandangan diri yang
negatif dan akan merasa kurang kompeten. Selanjutnya hal ini akan menyebabkan masalah
perilaku dan kecemasan, yang tidak jarang kemudian diikuti dengan kurangnya motivasi(Mercer, 1997).

Penyebab disleksia

Penyebab disleksia dapat dibagi
menjadi tiga yaitu
· faktor biologis,
· faktor kognitif dan pemrosesan serta
· faktor perilaku.

Oleh karenanya, untuk mengidentifikasi anak disleksia perlu pemeriksaan menyeluruh
dari segi biologis, kognitif serta perilaku. Seorang dokter dapat membantu melihat ada tidaknya gangguan biologis yang menyertai, atau ada tidaknya gangguan neurologis.

Sedangkan pemeriksaan mendalam dilakukan untuk melihat ada tidaknya masalah dalam segi kognitif serta pemprosesan informasi (Reid,2001).

Membaca sendiri memiliki dua proses dasar yaitu
· proses decoding atau pengenalan kata dan
· proses pemahaman.
Dalam pengenalan kata, ada beberapa subketerampilan yang perlu dikuasai antara lain analisis fonetik, analisis struktural, kata-kata yang dikenal tanpa dikuasai
keterampilan fonetik (sight words), pengenalan kata melalui
pertanda serta penguasaan kosa kata. Sedangkan dalam proses pemahaman, seorang anak
dapat memahami dalam berbagai tingkat pemahaman yaitu tingkat literal, tingkat
penyimpulan, tingkat evaluasi serta tingkat apresiasi (Barrett,dalam Schloss, Smith & Schloss,1995).

Dalam melakukan asesmen, maka perlu dilakukan pemeriksaan pada area :
1. kecepatan membaca,
2. ketepatan membaca,
3. pengenalan kata,
4. pemahaman membaca,
5. kosa kata dan
6. kemampuan mengeja
(Wong, 1996).

Untuk mengidentifikasi ada tidaknya masalah dalam membaca, dapat dilakukan oleh
beberapa orang antara lain guru, orangtua, dokter serta psikolog.

Guru dan orangtua dapat mengidentifikasi dari tes-tes formal serta observasi. Dari
observasi kegiatan sehari-hari misalnya, dapat dilihat :
· apakah anak bingung antara kiri dan kanan,
· sering melakukan kesalahan perhitungan,
· bingung pada arah,
· sering tersesat pada lingkungan baru,
· bingung apabila harus memperhatikan detil,
· tidak menyukai puzzles,maze atau aktivitas yang memiliki elemen visual,
· bingung pada huruf-huruf yang bentuknya mirip (b dan d, p dan q),
· sulit mengenali dan mengingat kata-kata yang dilihatnya (namun lebih
dapat mengingat kata-kata yang didengar),
· kehilangan jejak pada saat membaca,
· bingung dan sering terbalik dalam membaca kata- kata tertentu yang mirip
ubi dengan ibu),
· sulit menemukan huruf di dalam kata-kata dan suatu kata di dalam kalimat,
· sulit mengingat kata-kata yang dilihatnya,
· sulit memahami ide-ide utama dari bacaan.

Sedangkan dokter dapat membantu melihat apakah ada masalah neurologis yang menyebabkan kesulitan anak dalam membaca.

Seorang psikolog dapat menggunakan tes-tes psikometri untuk memastikan ada tidaknya
masalah dalam inteligensi serta kelebihan dan kekurangan anak dalam aspek-aspek inteligentifnya.

Tes-tes psikometri tertentu juga dapat membantu mengidentifikasi ada tidaknya masalah pemrosesan informasi, misalnya dari segi visual, auditif atau motorik. Selain itu penggunaan tes membaca yang formal serta informal juga dapat membantu melihat ada tidaknya masalah dalam membaca. Jadi, untuk membantu anak disleksia, perlu dilakukan pemeriksaan menyeluruh sehingga dapat ditentukan bagaimana potensi
anak secara keseluruhannya dan dimana kemampuan serta ketidakmampuannya.

Selain itu apakah ada masalah kesehatan atau fisik yang mungkin menyebabkan anak mengalami kesulitan dalam membaca. Dengan pemeriksaan yang menyeluruh, maka intervensi yang dilakukan pun dapat menjadi lebih terfokus pada penyelesaian masalah spesifiknya.


Last Updated ( Wednesday, 05 August 2009 )
sumber http://www.kesulitanbelajar.org